Piston – Titik Nol

Ini adalah sebuah penjabaran yang tepat dari sebuah statement: Yang muda yang berbahaya., dibentuk pada tahun 2011, anak-anak muda pemuja kecepatan dan keliaran dalam selera musiknya (juga dalam berkendara) sepakat membentuk kuartet unit heavy punk paling disegani untuk saat ini, ialah Argi Tendo (Vokal, Gitar), Aditya Samdhoko (Gitar), Yulio Abdul Syafik (Bass), dan Oza Rangkuti (Drum) yang membaptis dirinya dengan nama Piston. Tiga buah EP dan beberapa single sudah diluncurkan dalam medio 2012 sampai 2015, di bawah bendera Sepsis Records dan Lawless Records akhirnya Piston melepas debut full length-nya yang bertajuk Titik Nol tepat pada hari paling akhir di tahun 2016 lalu. Di bawah langit yang memerah, berdirilah mahluk berjubah, bertanduk, dan mata yang merah menyala. Kurang lebih begitulah yang tergambar di cover album yang sepenuhnya dikerjakan oleh Dannvs Darmawan ini.

Bicara tentang musik yang mereka tawarkan tak lepas dari beberapa pengaruh ZEKE, Bad Religion, Motorhead, bahkan Danzig/Misfits sampai Turbonegro. Sound yang kotor, tempo cepat, riff liar, ketukan drum satu dua, interlude yang bluesy namun heavy, ditambah rock n’ roll dan cap orangtua juga mungkin sedikit ganja. Saya sudah muak dan ingin muntah dengan band baru yang bermunculan dan mengusung musik sejenis namun enggan dan takut bereksplorasi lebih jauh dan hasilnya sudah bisa ditebak, terlalu Seringai-ish (maafkan kosakata bodoh saya ini). Iya betul, terdengar seperti Seringai, atau jika boleh saya bilang jauh puluhan level dibawahnya, hal yang percuma, terlihat seperti anak kucing budug. Dalam hal komposisi musik, sekumpulan bajingan serigala itu terlalu brengsek untuk disaingi atau sekedar untuk disamai levelnya. Itu semua sangat kontradiktif dengan apa yang Piston tawarkan di album ini, walaupun mengusung musik yang tidak bisa disebut baru namun bisa dibilang cukup segar, track pembuka dengan judul “Menuju Ketiga”, memang sudah seharusnya khawatir pada datangnya sebuah era dimana orang kolot anti-toleran dalam masalah ideologi mendominasi, faktanya hal itu sudah di depan mata sejak jauh hari dan tinggal menunggu hitungan ketiga. Walau sulit diberangus tapi apa kita akan diam saja? Karena itu bisa siapa saja dan terjadi pada siapa saja, saya tidak sedang berbicara tentang kontol-kontol bersorban itu, karena Piston berkata:

“Tak perlu mengumpat, takkan ada empat!”

“Titik Nol” memang jagoan milik Piston, mungkin itu juga penyebab album ini diberi judul yang sama. Sudah sempat dirilis dalam EP sebelumnya (saya lupa yang mana jika harus mengingatnya), dan entah sudah berapa kali dibawakan saat live. Riff repetitif pada bagian verse dan sebuah lirik pembangkangan membuat lagu ini terdengar solid dan tegas, menurut saya itulah dua unsur wajib dalam sebuah repertoar punk rock sebelum Green Day dan Blink-182 merusak semuanya. Lalu “The Unsung Heroes” yang terdengar sangat 90’s berhasil menjadi favorit saya, namun tunggu sampai eksplorasi berbahaya hard rock kental pada “Better Off Dead” mulai berputar. Mengapa saya menyebutnya bahaya? Begini, jika anak punk ngotot bermain rock n’ roll, maka hasilnya akan menjadi lebih destruktif dari rock purba dan klise yang lazim ditemui, seperti yang dilakukan Atomic Bitchwax dan Lecherous Gaze. Ingin meracau lebih panjang dan sembarangan namun tidak menemukan kata yang lebih layak disebut daripada “Bangsat! Mati Saja Kau!”. Dilanjut dengan Melambai, saat intro-nya terdengar seketika mengingatkan saya pada “The Forbidden Zone” milik Misfits, sudah seharusnya Piston memiliki lagu yang cocok sebagai pengiring saat menunggangi kuda besi, ini adalah sebuah nomor bagi para pemuja kecepatan dalam berkendara (bukan untuk saya yang seorang mania pejalan kaki).

Sehabis nada-nada liar bergerilya pada track ketujuh yang berjudul “Hakim Tak Berpalu”, lagi-lagi sentuhan hard rock dari awal sampai akhir lagu muncul pada “Son of Man”, kali ini terasa suasana stoner rock dengan tempo yang sedikit berat diimbangi dengan reaksi kimia beberapa miligram melebihi dosis campur kafein, berattttttt…..tiba-tiba mengawang dilengkapi lirik bilingual, ah, tapi saya butuh track dengan intensitas cepat, permainan instrumen slengean, beat khas Motorhead, dan licks interlude yang bluesy namun tak banyak basa-basi. Tentu, “A Challenge To Our Current Understanding” adalah jawaban paling tepat. Dengan track instrumental penutup yang berjudul “Jack of All Trades (Master Of None)”, itu berarti total ada tiga lagu yang memiliki durasi sedang (lebih dari 5 menit) di album ini. Ketiga nomor tersebut memiliki unsur hard rock yang sangat masif jika bicara tentang kuantitas dan akan menjadi korosif bahkan eksplosif jika bicara tentang kualitas.

Ini mengingatkan pada salah satu album milik unit stoner rock yang pernah saya ulas beberapa waktu lalu. Namun, setelah mendengarkan ketiga track tersebut, entah mengapa saya lebih menjagokannya daripada album itu. Tunggu dulu, 10 lagu tadi belum selesai begitu saja tanpa “Mahluk Suhu Rendah” dan belum lengkap menjadi apa itu yang disebut sebuah ‘album’, ini merupakan single yang dilepas pada perayaan Halloween empat tahun lalu. Coba bayangkan jika Iwan Fals tersesat di gunung Everest dan disekap oleh seekor mahluk pemakan daging manusia, seketika ia berhasil kabur, lalu dalam perjalanan pulangnya ia menceritakan pengalamannya kepada anggota Misfits via aplikasi chat. Jerry Only pun mengajak para rekannya untuk jamming (kecuali Danzig, walaupun sudah reuni tahun lalu, tapi dia lupa masih memblokir kontak Danzig pasca konflik antara keduanya sekitar 30 tahun lalu). Akhirnya Jerry mengajak Iwan untuk mengisi vokal dan terciptalah lagu itu. Dan saya hampir bunuh diri karena membayangkan hal bodoh barusan.

Tak banyak band muda yang bisa konsisten sampai merilis album penuhnya, konsisten disini maksud saya berumur panjang, karena banyak band muda bermunculan dengan beragam musik yang ditawarkan tapi hanya mampu merilis beberapa single atau EP lalu bubar jalan, walau kadang banyak yang tidak cocok dengan telinga saya. Maaf, saya bilang tidak cocok, bukan jelek. Ah, tangan tremor saya gatal untuk tidak menulisnya. Baiklah. Jelek! Dasar insting diskriminatif, sinis, puas kau? Anjing. Walau begitu, banyak juga yang berhasil mencuri perhatian saya namun sayangnya tidak diiringi produktivitas dan konsistensi. Namun, saya yakin Piston bukanlah salah satunya.

 

Teks: Saputra Dimas

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)