Rajasinga – III

Kalender tinggal menyisakan satu halaman terakhir. Sebuah penanda, kalau ulasan ini memang sudah menjelang tanggal kadaluarsa, barangkali lebih. Mundur tiga bulan, satu album kencang dari trio sifilis asal Negerijuana dirilis, dan itu yang hendak dituliskan oleh teks yang saat ini ada di hadapan kalian. Terlambat memang, baru muncul tiga bulan setelah rilis, tapi tak apa, toh album III dari Rajasinga ini sendiri baru muncul setelah lima tahun alfa merilis sesuatu. Dalam jeda sekian tahun tersebut, mereka sedikit berubah sembari menyisakan karakter asli di berbagai tempat.

Mari lewati pembahasan mengenai kemasan atau pun konsep artwork yang tampil di album ini. Fakta bahwa Rajasinga berisikan top tier music illustrator saja sudah menjadi jaminan tersendiri. Agar tak membuang lebih banyak kata-kata, mari lewati pembahasan tentang rupa album dan sudahi paragraf tanpa pesan penting ini. Langsung saja masuk ke urusan musik.

Revan muncul paling awal membuka III, menjadikan ketukan drum tanpa gangguan instrumen lain sebagai bentuk jabat tangan. Sebuah sambutan setelah lima tahun tak bersua.  “III:Penghapusan Dosa” judulnya. “Berserahlah…. Menyerahlah….” Ucapnya. Tak banyak bersungut, hanya dua kata itu saja. Tampil selazimnya track mukadimah dalam susunan repertoar: hadir satu per satu, perlahan-lahan , baru kemudian memulai rentetan, mengantarkan kita ke  ritual senja ala Rajasinga di daftar ke dua.

Seperti banyak musisi seantero jagat  yang tak kehabisan akal menghasilkan syair mengenai perkara hati, perasaan, dan hal-hal ‘biru’. Triumvirat Morgg-Biman-Revan tak pernah mati pikir dalam menghasilkan lirik bernuansa ‘hijau’. “Stoned Maghrib” menjadi salah satu dan yang pertama muncul di III. Menjadi suksesor “S.K.I.P”, “N.A.D. Kush”, dan mungkin ada lagi yang tidak saya ketahui. Cara menyanyikannya sama seperti lantunan di “N.A.D. Kush” yang entah apa itu istilahnya, tapi saya menyamakannya dengan penyihir yang sedang mengumandangkan mantra.

Maju ke anthem madat selanjutnya, “½ 5 -10” katanya.  Versi lebih matematis dari ‘4.20’. Rasanya tak perlu saya tulis lagi apa yang diwakili angka tersebut. Rajasinga tetaplah Rajasinga: Terlahir untuk mengabdi sebagai pencipta himne bagi Negerijuana. Sebuah negeri yang berada ‘tinggi’ di atas sana. Tempat wajah tiga serangkai Morrg-Biman-Revan terpampang dalam cetak mata uang setempat, namanya terabadikan menjadi nama jalan, dan patungnya berdiri kokoh di distrik bisnis setempat. Haha, sekadar imajinasi liar saja.

Cukup. Lupakan satu paragraf nirmakna tadi. Saatnya turun dari Negerijuana, kembali ke alam nyata, dan lanjut menulis tentang “½ 5 – 10”. Sebuah track dengan verse kencang, beramunisikan gebukan drum kebut disertai riff gitar dua kunci, disambung dengan lafalan suara seram yang bernyanyi parau di bagian reff, disertai lick yang sengaja tampil lambat dilatari gemuruh drum yang bertalu kencang. Ciamik!

rajasinga-tambahan

Bagi saya, Rajasinga adalah salah satu guru sekaligus produsen istilah unik yang tak lazim terdengar. Dari mereka lah saya mendengar hal-hal semacam ‘segan’, ‘kokang batang’, ‘rajagnaruk’, dan lain-lainnya. Lalu, keistimewaan lain Rajasinga yang selalu saya suka adalah pemilihan tema lirik yang tak jamak dan berada di luar ‘kotak’ band sejenis: manusia kanibal, pacu motor di jalanan, hingga rutinitas antara tangan dengan sesuatu di balik celana. Tapi di III, Rajasinga tak lagi di posisi yang sama. Mulai merangsek ke dalam, mengikuti arus yang jamak, berteriak pada penguasa dan ormas-ormasnya. Selain itu, perubahan juga terjadi pada penggunaan diksi, frasa, hingga istilah yang tak lagi senyeleneh album sebelumnya. Walau tak sepenuhnya ‘bertaubat’ dalam menghasilkan term-term yang enak didengar telinga, tetap saja ada hal yang menurut saya berubah.

Sebagai contoh, di track nomor tiga berjudul “Pembantai”.  Termuat kata ‘agama’, ‘membantai’, dan ‘kepentingan’, silahkan tebak tema lagu ini melalui tiga kata tersebut. Pandangan ini hanya asumsi pribadi yang boleh disepakati atau tidak, karena segala interpretasi lirik bersifat personal, tapi bagi saya isu dan pilihan diksi yang tertulis cukup klise.  Berbeda dengan “Premandulisme” di Rajagnaruk yang bagi penulis memuat persoalan yang sama, namun dikemas dengan diksi dan kalimat yang lebih segar, sedikit nyeleneh,  dan menyenangkan. Saya sendiri agak bingung cara menjeleskan asumsi saya secara lebih panjang, tapi kurang lebih seperti itulah intinya. Semoga bisa paham dan maklum.

Jika harus bermetafora, bagi saya lirik di Rajagnaruk seperti coretan di dinding toilet yang terkadang jenaka, slebor, sambil sesekali mengumpati keadaan dan berteriak protes. Sedangkan kali ini, mereka sudah keluar dari toilet dengan pikiran yang lebih serius, mengaktifkan piranti ketik, dan menulis dengan lebih lazim. Begini salah satu petikannya:

“Pemerintah Sentral Hidupnya Seperti Dianal. Terkenal Sebagai Sundal. Melayani Si Pemilik Modal.”. Tulis mereka dalam “Masalah Kami di Negeri Ini”.  Rangkuman permasalahan klise khas Indonesia sepanjang 2:48 menit. Berisi 18 baris penuh rima. Sambil tak lelah melafalkan hal yang selalu mereka utarakan sebelumnya:  “Gele belum legal” katanya.

Tapi bagaimana pun itu, Rajasinga tetap tahu cara menjadi sinting. Salah satunya melalui track tersembunyi yang judulnya dialfakan secara fisik di sleeve CD, yang bisa membuat perumus Pancasila dalam angkara di akhirat sana. Diacak-acaknya dasar negara yang terdengar raharja itu, diperbaharui menjadi versi paling sesuai bagi tiga serangkai ini. Judul lagunya apa? Kalian bisa tahu ketika CD sudah terdeteksi aplikasi pemutar lagu. Sedikit saran dari saya bagi yang belum memiliki fisik album III: Segera koleksi CD ini kawan-kawan! Seandainya hal ini diperkarakan dan rilisan ini ditarik dari peredaran, kehadirannya bisa langka dan harganya meroket!

Kembali tentang kepongahan trio Revan-Biman-Morgg yang selalu paham cara membuat orang-orang mengumpatkan “gila, anjing!”. Di III mereka tetap mampu menunjukan kalau selera humor mereka masih amat sangat baik.  Kalau di Rajagnaruk secara suka-suka satu per satu nama bintang porno dicatut dalam “Kokang Batang”. Kali ini mereka melantunkan “Dimana anaku, dimana istriku, di mana kawanku, dimana rumahku,” dalam “Orang Gila” dengan semena-mena. Memang dasar band gendeng!

Saya membayangkan saat mereka tampil langsung. Sekian orang waras (yang sekacau-kacaunya pun, paling hanya dalam pengaruh alkohol) yang tergabung di area penonton dengan lantang melantunkan baris tersebut. Cuma orang sinting yang bisa membuat kumpulan orang berakal sehat menjadi sedeng, dan Rajasinga adalah salah satunya. Urusan ini menjadi hal lain yang membuat saya mengagumi Rajasinga: Mereka bisa membuat kita gila dengan sesadar-sadarnya akal sehat.

Tak berhenti kegilaan itu, masih di track yang sama, lagi-lagi saya mengumpatkan ‘anjir’ setelah di tengah lagu mendengar sebuah part yang amat sangat familiar, penemuan musikal terbaik dari era 90’an, gonjrengan intro “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana! Sebuah bentuk penghormatan yang keren, seperti yang Jay Z lakukan dalam “Holy Grail”. Kalau dulu Rajasinga menyelewengkan sampul dan judul  Nevermind menjadi Nevergrind, kali ini mereka menyelundupkan secuil “Smells Like Teen Spirit” dalam “Orang Gila”. Hal ini membuat saya berani menyimpulkan bahwa selain marijuana, Nirvana juga menjadi bagian dari DNA Rajasinga.

Selain nomor edan di atas, dua hal asyik lainnya dari III ada di “Weekend Rocker” dan “Hey!”.  Untuk yang pertama disebut, bagian terbaiknya ada pada lirik dan isu yang aduhai. Sebuah anthem eskapisme. Ode pembebasan bagi kelas pekerja yang terihat muram. Lagu senang-senang untuk para mahkluk nine to five, hamba deadline, dan fakir piknik. “Kau yang ada di sana. Nampak Kurang Senang. Kenapa Diam Saja? Sini kita goyang”.  Kalimat ajakan yang umum, tapi sulit untuk ditolak.

Maju satu lagu dari situ ada “Hey!”. Lagu lainnya yang mempertanyakan kehidupan raharja di bumi Indonesia, masih ‘bersaudara’ dengan “Masalah kami di Negeri Ini”. Persetan dengan lirik yang berdiri di permukaan karena musiknya bertengger di podium juara. Saya cinta bagian reff mengingatkan  saya akan menyenangkannya kebut-kebutan ala crossover thrash. Belum lagi interlude lagu yang diisi solo gitar nan bluesy yang mengingatkan saya akan serunya mendengarkan Motorhead atau pun Midnight. Salah satu potongan yang paling saya sukai di album III ini.

Setelahnya, repertoar dilanjut dengan track outro berjudul “III: Penghabisan”, berjudul nyaris sama dengan nomor paling awal, dengan riff yang juga serupa, hanya saja dengan lirik yang lebih panjang. Di peghujung III ini, kembali gebukan Revan yang berhenti paling akhir tanpa diganggu instrumen lain. Pelan-pelan menutup, menjadi Alfa dan Omega.

Tak banyak yang bisa mengganggu Rajagnaruk dari jajaran elit album grindcore produksi Indonesia. Begitu pula dengan III dari Rajasinga sendiri. Tapi toh, III juga bukan barang butut yang bisa dihapus dari daftar putar kita, walau bagi saya tak sebaik Rajagnaruk. Tapi tak apa, toh selepas Master of Puppets pun Metallica tak langsung membuat album yang lebih baik. Setidaknya, setelah lima tahun kita masih tahu bahwa seberapa pun banyak perubahan di musik Rajasinga. Tetap ada atribut  yang sama untuk  mengidentifikasi mereka: Jenaka, Nirvana, dan (tentu saja) mariyuana.

 

Oleh: Indra Suhyar