Archipelago Festival: Menangkap Gejala Zaman, Menyikapi Gelombang Besar Generasi Dominan

Roda waktu terus berputar cepat. Tanpa terasa, tahu-tahu kita telah melewati tahun demi tahun, lalu tumbuh menjadi tua, hingga pada saatnya nanti tinggal menikmati sisa-sisa menit terakhir untuk menuju tidur panjang bernama kematian.

Generasi baru juga terus hadir tanpa bisa dicegah. Seperti sekarang ini, dunia tengah dihadapkan dengan gempuran sebuah gelombang besar dengan julukan: generasi millennial. Sudahkah kalian, para pendahulu, mengucap salam pada mereka?

Lembaga riset Pew Research Centre menyebut karakteristik generasi ini sebagai generasi yang percaya diri, ekspresif, liberal, bersemangat, dan terbuka pada tantangan. Apa boleh buat? Sifat-sifat tersebut terbentuk dari pesatnya pertumbuhan teknologi hari ini hingga seolah-olah dunia tak ada lagi batasnya: jarak bukan lagi kendala dalam komunikasi, maka dampaknya, arus informasi begitu deras mengalir, hingga perubahan dan keberagaman terjadi di berbagai lini. Para millennial mempunyai peran besar dalam membidani realitas tersebut.

“Ada yang cenderung over-gimmick, sampai muak sama gimmick. Ada yang humor, ada yang subtle tapi pedes. Mantap sih, adanya media sosial bikin secuil karakter komunikasi dalam ranah musik jadi kelihatan,” kata Raden Rama Saputra, personel grup musik Gaung, merujuk pada konten, scene musik dan pelaku di dalamnya.

Jenis musik menjadi kian beragam. Kaum Millennial memiliki kecenderungan tidak ragu untuk tampil stand out sehingga buat mereka, menjadi berbeda bukanlah sebuah aib. Para millenial terlahir dengan rasa apresiatif tinggi karena sikap terbuka yang mereka miliki, dan hal tersebut mungkin saja menjadi sebuah entry point untuk menanggalkan kepercayaan-kepercayaan lama kontra produktif, semisal ungkapan; “musik berhenti di tahun 90-an, setelahnya hanyalah pengulangan”.

Musisi juga sudah tidak perlu lagi bergantung pada siapa pun. Mereka sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Masalah promosi, produksi hingga distribusi, harusnya sudah menjadi mudah untuk diatasi karena yang diperlukan hanyalah melek teknologi. Dengan menjadi millennial, artinya minim mengalami stagnasi karena sesungguhnya semua masalah sudah sangat mudah diretas.

Mengolaborasikan musik dengan hal-hal di luar itu, menjadi sesuatu kelumrahan bagi mereka. Ya, eksperimental adalah kata kunci dalam menggambarkan ketertarikan para millennial.

Archipelago Festival Media Partners-02Setidaknya, Archipelago Festival yang akan terselenggara di Soehanna Hall, Energy Building, SCBD, Jakarta tanggal 14-15 Oktober 2017 ini, selain menyuguhkan penampilan dari musisi-musisi potensial dari berbagai penjuru dunia semisal Gaung, Onar, Feast, Ramayan, dan Afrikan Boy, juga akan membahas bagaimana situasi, kondisi, dan peluang pada lingkaran musik Indonesia di tengah dominasi para millenial.

Sejumlah panel diskusi turut disediakan, mulai dari masalah managerial band hingga isu perempuan dan kesetaraan gender. Masing-masing panel akan menghadirkan pemateri yang andal di bidangnya. Kita akan melihat wajah-wajah tak asing semisal Guruh Soekarno putra, Andien, Robin Malau, Kartika Jahja, dan masih banyak lagi.

Gagasan dari dua kolektif Jakarta yaitu Sound From the Corner dan Studiorama tersebut juga menyebar tagar #catchyourwaves sebagai ajakan pada generasi hari ini untuk bisa menangkap gejala zaman, lalu membagikannya atas dasar saling menyadarkan sesama, hingga pada akhirnya melahirkan kelompok-kelompok yang adaptatif dan mampu melangkah dengan tepat untuk menciptakan solusi atas segala tantangan.

“Memang butuh platform seperti itu di era yang eklektik kayak sekarang. Bukan hanya regenerasi, tapi juga redefinisi karena zaman terus berprogres. Kawan-kawan Archipelago coba mengejawantahkan itu, dan kayaknya ini bukan event tempat money laundry tuan-tuan penggerogot duit rakyat. Salut untuk semua yang berkontribusi,” tutur Rama.

Dunia masih belum selesai dengan perkara millennial ini, dan pada saatnya nanti, generasi lainnya bakal tumbuh dewasa dan mendominasi setiap lini lewat karya-karyanya. Kemajuan teknologi pun akan senantiasa meningkat pesat seiring dengan berjalannya waktu. Maka, memperkaya diri dengan segudang ilmu adalah suatu kemestian agar mampu bersaing nantinya.

Bagi yang diam di tempat, siap-siap terkikis oleh arus deras perubahan. Nerakalah bagi orang-orang yang menolak kemajuan.

Rizki Firmansyah

sarat misteri dan penuh gairah. sedang belajar menulis di surnalisme.com