Menyongsong Kembali Synchronize Festival 2017

Perhelatan musik besar se-Indonesia, Synchronize Festival, bakal kembali digelar pada tahun ini. Sebelumnya, gelaran lintas genre mapun generasi tersebut berlangsung secara ramai di 2016 lalu sebagai tahun perdananya. Synchronize Festival 2017 sendiri, siap digelar pada 6 – 8 Oktober 2017 mendatang di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat.

David Karto selaku Festival Director, menceritakan gambaran rangkaian acara tahun ini. Dengan masih mengusung konsep yang tak berbeda jauh dengan sebelumnya, Synchronize Festival 2017 menargetkan mampu menjadi kawahcandra dimuka festival musik paling akbar untuk kawasan Asia Tenggara.

 “Synchronize Festival 2017 masih mengusung hal yang sama dengan edisi pertama, namun ingin mencoba mengembangkan kreativitas, agar lebih maju lagi,” tuturnya di Eighty Nine Coffee, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Rabu 7 Juni 2017 lalu.

Pengembangan kreativitas tersebut bakal menonjol dari segi program dan dekorasi. David lalu menjabarkan rencana-rencana tersebut. “Dari sisi program ada nama-nama yang berbeda, dan dari sisi tampilan bakal lebih dirapikan. Kita bekerja sama dengan Jimi Multhazam dan kawan-kawan untuk membantu dari aspek visual,” kata David.

Sampai saat ini, nama-nama penampil yang dipastikan hadir adalah Tohpati Bertiga, Barasuara, hingga sosok legendaris sekaliber Ebiet G. Ade. Diperkirakan, bakal ada lebih dari 100 musisi yang tampil dan mengguncang panggung Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 6 – 8 Oktober 2017 mendatang.

“Mari kesampingkan mainstream, atau sidestream, karena di sini kita mencoba menyatukan dan gathering semua musisi,” ucap Program Director Synchronize Festival 2017, Kiki Aulia Ucup.

Menurut catatan, Synchronize Festival, tahun kemarin berhasil meraup keuntungan yang signifikan. Mereka mampu menggaet 23 ribu penonton untuk hadir menyaksikan 104 penampil yang terdiri dari berbagai genre, termasuk raja dangdut Rhoma Irama.

Kiki Ucup kembali mengungkapkan bahwa tim penyelenggara acara berusaha menyatukan genre musik tanpa memandang ranah arus utama ataupun arus pinggir. Dari situ, ada sejumlah yang berusaha ia kejar agar penonton hadir dari berbagai macam kalangan. “Kalau diri sisi musik, sudut pandang saya pribadi ada tiga aspek yang menjadi alasan mereka datang: mengejar nostalgia, musiknya sendiri, atau hal yang baru. Kita coba kembangkan tiga ornamen itu agar menjadi hal yang positif dan menyenangkan untuk pengunjung Synchronize,”  kata lelaki yang merangkap juga sebagai manajer Barasuara ini.

Tak hanya itu yang dijadikan patokan. Ucup beserta kawan-kawan berusaha melihat antusiasme dan pangsa pasar penikmat musik Indonesia, khususnya seumur anak muda. “Mulai dari umur anak SMP sampai oma-oma, apa sebetulnya musik yang ingin dikejar. Seperti apa sih, rumus dan perpaduan yg diinginkan orang untuk hadir dalam sebuah festival,” ujarnya.

Dengan begitu, maka target Synchronize Festival 2017 untuk menjangkau segala kalangan akan lebih terasa. Ia pribadi tak ingin terkungkung pada aliran-aliran yang spesifik saja. “Kita enggak terpatok untuk genre musik tertentu. Intinya ingin mencoba melihat dari aspek ketertarikan orang-orang dan lintas aliran musik,” tuturnya.

Foto: Karel

Redaksi

Kirim karya tulisan Anda tentang musik atau aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut ke e-mail: redaksi.surnalisme@gmail.com dengan mencantumkan nama serta penjelasan singkat tentang diri Anda. Tulisan akan disebar dalam situs serta kanal-kanal media sosial kami. Tabik! :)